Oleh: Drs. MUHAMMAD HANI, M.Hum. (Pengawas Sekolah)

Dalam Kurikulum 2013, guru diwajibkan untuk melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik (scientific) disebut pendekatan ilmiah yakni proses pembelajaran yang bisa disamakan dengan suatu proses ilmiah. Pendekatan ilmiah bisa dijadikan cara untuk memotivasi siswa dalam mencapai perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pendekatan ilmiah, mengutamakan penalaran induktif, yaitu memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Metode ilmiah umumnya menempatkan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

Sebuah metode dapat disebut ilmiah apabila metode tersebut berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.

Mengaktifkan Peserta Didik

Pendekatan saintifik (ilmiah) merupakan pendekatan yang sangat tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran, karena sebenarnya proses pembelajaran adalah sebuah proses ilmiah (santifik). Banyak ilmuwan meyakini bahwa melalui pendekatan lmiah, selain dapat menjadikan peserta didik lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Maksudnya, dalam proses pembelajaran, peserta didik dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan diajak untuk beropini apalagi memperkirakan dalam melihat suatu fenomena. Mereka dilatih untuk mampu berfikir logis, runtut dan sistematis melalui lima pengalaman belajar yaitu; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.

Dengan demikian, inti dari pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran adalah lebih mengaktifkan peserta didik agar mampu menyerap materi pelajaran secara intens. Peserta didik dipacu supaya bisa aktif dalam proses belajar mengajar agar materi pelajaran yang diterimanya akan tertanam dalam pikirannya secara baik.

Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik menjadi “tahu mengapa.” Ranah keterampilan  menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik menjadi “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik menjadi “tahu apa”. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antar kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik, peserta didik diarahkan untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Peserta didik bukan hanya diberi teori-teori atau pengertian tentang sesuatu, tetapi langsung diarahkan untuk berpikir kritis tentang sesuatu yang dibelajarkan. Ketika peserta didik, misalnya mempelajari tentang kemacetan lalu lintas, peserta didik bukan hanya mengetahui teori atau pengertian tentang kemacetan lalu lintas. Peserta didik diarahkan dan dimotivasi untuk mengetahui lebih mendalam tentang kemacetan lalu lintas dan apa penyebabnya, karakter pengendara mobil dan motor yang menyebabkan kemacetan, perilaku pedagang kaki lima yang memperparah kemacetan, sampai luas jalan yang tersedia sehingga kemacetan sulit diselesaikan, serta permasalahan lain terkait kemacetan.

Untuk bisa aktif, peserta didik juga bisa diarahkan untuk melakukan diskusi secara kelompok atau dengan teman sebangku untuk menanggapi sebuah persoalan berkaitan dengan materi palajaran. Diskusi antarpeserta didik bisa membuat mereka termotivasi menggunakan seluruh kemampuan berpikirnya dalam menanggapi persoalan yang ditanyakan guru. Dalam diskusi, peserta didik bisa memecahkan persoalan-persoalan yang berklaitan dengan materi pelajaran.

Pendekatan saintifik membuat peserta didik aktif menggunakan logikanya, sehingga akan menjadi mampu berpikir kritis dalam menghadapi permasalahan hidup apa pun di kelak kemudian hari.

Berbeda dengan Pembelajaran Konvensional

Sebelum menerapkan sebuah cara baru dalam pembelajaran, kita harus mengenal terlebih dulu bentuk pembelajaran baru tersebut. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbeda dengan sebelumnya, sehingga penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri, yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Beberapa metode pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik adalah metode-metode yang berusaha membelajarkan siswa untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari solusi  atau menguji  jawaban sementara atas suatu masalah dengan melakukan penyelidikan, lalu dapat menarik kesimpulan dan menyajikannya secara lisan maupun tulisan.

Pendekatan saintifik bisa diterapkan pada peserta didik dengan tingkat kesulitan sesuai usianya. Pendekatan saintifik pada peserta didik SD tentu berbeda dengan peserta didik SMP dan SMA/SMK. Pada peserta didik SD, tentunya disajikan permasalahan yang ringan dan tidak meluas. Lalu pada tingkat SMP bisa disajikan persoalan yang agak lebih luas dibandingkan untuk tingkat SD. Lalu pada tingkat SMA/SMK bisa diterapkan persoalan yang luas dan mendalam.

Dengan demikian, pendekatan saintifik dalam pembelajaran sangat mungkin untuk diberikan mulai pada usia SD sampai SMA/SMK. Tentu saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan kemampuan berpikirnya dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan berfikir abstrak yang lebih kompleks.

sumber : dindikbudpora.purworejokab.go.id

Ke atas